sumber Gambar: http://mutagencholchicine.blogspot.com/2011/10/sabar.html

Dalam pergaulan dengan manusia tidak akan lepas dari 2 kemungkinan, apakah mewarnai atau diwarnai. Mewarnai maksudnya memberikan pengaruh, sedangkan diwarnai maksudnya terpengaruh. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memberikan perumpamaan yang sangat baik, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang pergaulan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Demikian juga beliau shallallahu’alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa keadaan agama seseorang itu dapat dilihat dari keadaan agama teman dekatnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Demikian itu menunjukkan betapa pentingnya dalam memilih teman bergaul.

Setelah memahami rambu-rambu dalam pergaulan dan segala kemungkinan yang akan terjadi, akankah kita tetap bergaul dengan manusia atau lebih baik hidup menyendiri jauh dari manusia yang kebanyakan melakukan perbuatan yang melampaui batas? Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas perangai buruk mereka lebih besar pahalanya daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dengan perangai buruk mereka.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Albani).
Jadi bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguannya ternyata lebih baik daripada yang tidak bergaul, tentunya setelah memahami batasan-batasan syar’i dan bersikap sebagaimana yang diinginkan oleh syariat. Inilah salah satu implementasi dari wasiat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma “bertaqwalah dimana saja kamu berada”.
Bagi seorang mukmin yang telah memiliki pengetahuan tentang agamanya serta telah istiqomah mengamalkannya, pergaulannya kepada manusia akan memberikan manfaat yang besar, diantaranya adalah dapat berdakwah, membantu saudaranya untuk menyempurnakan agamanya setelah dia menyempurnakan untuk dirinya sendiri. Disinilah dia harus berpegang pada metode mendasar dalam berdakwah sebagaimana diajarkan oleh Allah Ta’ala “
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik, karena sesungguhnya Tuhan-mu lah yang lebih tahu siapa yang (pantas) tersesat dari jalan-Nya, dan Dia juga yang lebih tahu siapa yang (pantas) menjadi orang-orang yang mendapatkan petunjuk”. (An-Nahl: 125).
Hikmah adalah tingkatan yang pertama, yaitu dengan ilmu dan menempatkan sesuatu pada tempatnya, berbicara dengan kadar pemahaman mereka, sehingga mudah untuk dicerna dan diterima. Jika dengan hikmah belum mampu menyentuh sasaran, maka berikanlah nasehat yang baik, yaitu berupa kabar gembira dan ancaman, janji pahala dan siksa, namun tetap dengan cara yang lemah lembut. Nabi Musa saja diutus Allah kepada Fir’aun yang telah mengaku dirinya tuhan, agar berdakwah dengan lembut, bagaimana pula sikap kepada sesama saudara muslim. Akhirnya, jika nasehat yang baik pun tidak mempan, maka debatlah dengan cara yang paling baik, yaitu dengan dalil-dalil yang tepat, bukan sekedar debat “kusir” yang tidak akan berujung pada suatu kesimpulan. Diantara debat yang baik adalah adalah yang memberikan persyaratan-persyaratan sebelum dimulainya debat, sebagaimana debatnya Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma kepada kaum Khawarij. Selanjutnya, serahkan kepada Allah Ta’ala, tidak perlu bersedih, tidak perlu memaksa, karena Dia lah yang lebih tahu siapa yang pantas tersesat dari jalanNYa dan siapa yang layak mendapat petunjukNya.

Ketika seseorang telah menemukan teman pergaulan yang bagus agamanya serta shahih ilmunya, maka hendaknya mereka bersabar untuk tetap bergaul dengan mereka. Bersabar, karena bisa jadi orang-orang yang shalih itu mempunyai sifat-sifat serta perangai yang kurang baik, atau kurang pas bahkan terkadang sulit diterima. Pahamilah, bahwa orang shalih itu adalah manusia biasa, bukan Malaikat yang suci, bukan pula Nabi yang maksum. Bersabarlah, karena bagaimanapun juga bergaul dengan mereka akan memberikan manfaat. Bergaul dengan mereka berarti akan mendapatkan warna yang baik. Bergaul dengan mereka akan memacu untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Maka dari itu Allah Ta’ala memerintahkan untuk besabar dan jangan berpaling dari mereka hanya karena menuruti hawa nafsu sendiri, atau kepentingan dunia lainnya, atau mengikuti orang-orang yang jahil serta lalai dari mengingat Allah, sehingga menyebabkan berbagai macam pelanggaran.
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” [Kahfi: 28]
Maka bersabarlah dalam bergaul bersama mereka dan tetap dalam kesabaran. Tidak ada batas dalam kesabaran sebagaimana pahalanyapun tanpa batas. Dan kesabaran akan menjadi pelita, sehingga siapa yang mempunyai pelita niscaya akan mampu terus berjalan meski yang dilaluinya adalah lorong-lorong yang gulita.
Muscat, 13 Rajab 1433H